Iklan Slot Iklan Desktop
Iklan Slot Iklan MobileBanner 320 × 100Lihat
Memuat waktu...| Informasi terverifikasi untuk publik
TerkiniTentang kamiPasang IklanRSS
TERKINI
Hoaks, Megawati Umumkan Bantuan Dana Modal Usaha Lewat WhatsApp•[SALAH] Makanan GMO Merusak Genetik dan Kesehatan Manusia•Salah, Sri Mulyani dan Suahasil Ditangkap KPK karena Korupsi•Cek Fakta: Hoaks Video Kota Solo Dihantam Rudal Secara Tiba-Tiba•Cek Fakta: Tidak Benar Ada 109 Ton Emas Palsu dari PT Antam

[SALAH] Makanan GMO Merusak Genetik dan Kesehatan Manusia

Faktanya, tidak ada bukti ilmiah bahwa konsumsi makanan GMO dapat menyebabkan perubahan atau integrasi DNA makanan ke dalam genom manusia, sementara produk GMO…

Iklan Slot Iklan Atas ArtikelLeaderboard 728 × 90Info Iklan
Ilustrasi untuk [SALAH] Makanan GMO Merusak Genetik dan Kesehatan Manusia
Sumber gambar: data artikel Mafindo/TurnBackHoax. Klik gambar untuk melihat ukuran besar.
Sumber klaimFacebook, Instagram
KlasifikasiMisleading Content
ID Mafindo#37029
Lihat sumber klaim ↗

Klaim yang Beredar

Akun Facebook “Cahaya Simarmata” [arsip] dan akun Instagram “singanuswantara” [arsip] pada Minggu (6/9/2026) membagikan video diawali dengan gambar berisi narasi:

“Makanan ber GMO berpengaruh merubah struktur gen manusia. Ini adalah agenda globalisasi mereka sudah sejak lama bermain lewat makanan untuk memuluskan agenda depopulasi dan mengintervensi fitrah manusia. Tujuan mereka: mengurangi populasi; melemahkan generasi; menghilangkan fitrah. Waspada! Jangan biarkan mereka mengendalikan apa yang kita makan”

Video tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemberitaan dari Daily Mail mengenai keracunan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hingga Senin (5/10/2026) unggahan Facebook “Cahaya Simarmata” menuai hampir 300 tanda suka dan 20 komentar. Sementara unggahan Instagram “singanuswantara” telah disukai oleh 138 pengguna dan dikomentari 5 kali.

Iklan
Promo Spesial

Hasil Pemeriksaan Fakta

Disadur dari artikel Periksa Fakta AFP.

Paul Teng Piang-Siong, peneliti senior bidang ketahanan pangan di S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapura, mengatakan bahwa skenario dalam unggahan yang beredar tidak memiliki dasar ilmiah. Menurutnya, DNA dan protein yang terdapat dalam makanan, termasuk makanan hasil rekayasa genetika atau Genetically Modified Organism (GMO), akan dicerna oleh tubuh dan menjadi bagian dari nutrisi.

Profesor Fakultas Teknik dan Teknologi Institut Pertanian Bogor (IPB), Eko Hari Purnomo, menjelaskan bahwa meskipun sebagian fragmen DNA dapat bertahan setelah proses pencernaan, hal tersebut tidak berarti DNA tersebut akan masuk dan menjadi bagian dari genom manusia. Agar gen dari makanan dapat mengubah genom manusia, materi genetik tersebut harus melewati sejumlah tahapan, mulai dari bertahan dalam sistem pencernaan, masuk ke dalam sel, mencapai inti sel, hingga terintegrasi dan tetap berfungsi di dalam genom. Menurut Eko, tidak ada bukti bahwa konsumsi makanan GMO menyebabkan integrasi genomik pada manusia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut kemungkinan terjadinya transfer gen dari produk GMO sangat rendah. Produk rekayasa genetika yang beredar di pasar internasional juga telah melalui pengujian keamanan oleh otoritas nasional masing-masing negara.

Di Indonesia, peredaran produk rekayasa genetika diatur oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Setiap produk GMO dievaluasi dari aspek keamanan, komposisi nutrisi, serta potensi risiko lainnya sebelum memperoleh izin untuk diedarkan.

Eko menambahkan bahwa tidak terdapat bukti makanan GMO yang telah memenuhi standar keamanan dan memperoleh izin edar memiliki risiko kesehatan lebih besar dibandingkan makanan konvensional. Sejalan dengan itu, Wendy Hunt, Ketua Akademik Ilmu Pangan dan Gizi di Murdoch University, Australia, mengatakan tinjauan terhadap bukti ilmiah yang diterbitkan pada 2026 tidak menemukan hubungan sebab-akibat antara konsumsi makanan GMO dengan alergi, keracunan, maupun penyakit seperti kanker.

Produk GMO juga telah dikonsumsi secara luas sejak mulai dipasarkan pada pertengahan 1990-an. Colin Barrow, Ketua Divisi Bioteknologi di Deakin University, Australia, mengatakan produk seperti minyak kanola hasil rekayasa genetika telah beredar luas, sementara pemahaman publik mengenai GMO masih perlu ditingkatkan.

Tim Pemeriksa Fakta Mafindo (TurnBackHoax) mengunjungi akun Facebook resmi Daily Mail “Daily Mail Did That Just Happen?” untuk menemukan video asli yang dibagikan oleh akun Facebook “Cahaya Simarmata” dan akun Instagram “singanuswantara”. Diketahui video [arsip] tersebut pernah diunggah pada Kamis (3/9/2026) yang memberitakan terkait keracunan dari program MBG, tidak ada kaitannya dengan GMO.

Iklan Slot Iklan ArtikelLeaderboard 728 × 90Info Iklan
Iklan Slot Iklan Artikel MobileNative banner 320 × 250Buka
Kesimpulan

Misleading Content

Faktanya, tidak ada bukti ilmiah bahwa konsumsi makanan GMO dapat menyebabkan perubahan atau integrasi DNA makanan ke dalam genom manusia, sementara produk GMO yang beredar telah melalui pengujian keamanan oleh otoritas terkait. Jadi, unggahan berisi klaim “makanan GMO merusak genetik dan kesehatan manusia” merupakan konten yang menyesatkan (misleading content).

Iklan Slot Iklan Artikel Mobile KeduaNative banner 320 × 200Buka

Referensi (7)

  1. 1https://periksafakta.afp.com/doc.afp.com.C8V24KF
  2. 2https://www.facebook.com/watch/?v=1119965527370632
  3. 3https://archive.ph/IHLuI
  4. 4https://www.facebook.com/cahaya.simarmata.732609/posts/2860764477623697/
  5. 5https://archive.ph/PDpJu
  6. 6https://www.instagram.com/reel/Dc7-35pz0v-/
  7. 7https://archive.ph/feYFK
Tags:
Keterangan Artikel

Seluruh konten pemeriksaan fakta pada halaman ini disediakan oleh TurnBackHoax/Mafindo. Kami merupakan partner resmi dalam penyebaran informasi terverifikasi.

Logo Mafindo
Mafindo✓

MAFINDO adalah CSO anti hoax (organisasi masyarakat sipil). Kami mulai sebagai gerakan akar rumput online sejak 2015. Didirikan sebagai organisasi pada 19 November 2016, kami telah mempelopori banyak inisiatif anti hoax, seperti crowdsourced hoax busting, edukasi literasi digital untuk publik, CekFakta.com, dan kampanye publik untuk meningkatkan kesadaran tentang hoax dan bahayanya.