Iklan Slot Iklan Desktop
Iklan Slot Iklan MobileBanner 320 × 100Lihat
Memuat waktu...| Informasi terverifikasi untuk publik
TerkiniTentang kamiPasang IklanRSS
TERKINI
Hoaks, Video Ulang Tahun Presiden Prabowo adalah Peristiwa Baru•Salah, Video Nusron Wahid Ditangkap KPK di Bandara Soetta•Cek Fakta: Hoaks Video Hotman Paris Gelar Kuis Berhadiah Rp 100 Juta di Facebook•Cek Fakta: Hoaks Link Pendaftaran CPNS 2026 Prioritas Honorer•Cek Fakta: Video Ini Bukan Penangkapan Nusron Wahid oleh KPK di Bandara Soetta

Keliru, 2000 Orang Dikarantina Akibat Pes Pneumonik di Rusia

Berdasarkan hasil penelusuran, klaim yang menyebut wabah pes pneumonik di Rusia lebih mematikan daripada COVID-19 dan menyebabkan lebih dari 2.000 orang…

Iklan Slot Iklan Atas ArtikelLeaderboard 728 × 90Info Iklan
Ilustrasi untuk Keliru, 2000 Orang Dikarantina Akibat Pes Pneumonik di Rusia
Sumber gambar: data artikel Mafindo/TurnBackHoax. Klik gambar untuk melihat ukuran besar.
Sumber klaimTidak dicantumkan
KlasifikasiCekFakta
ID Mafindo#37256

Klaim yang Beredar

tirto.id - Beredar di media sosial Facebook unggahan mengklaim bahwa wabah pes pneumonik di Rusia lebih mematikan daripada COVID-19 dan menyebabkan lebih dari 2.000 orang menjalani karantina.

Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook “Mas Khotib” (arsip) pada Kamis (8/10/2026). Dalam gambar tersebut menampilkan model 3D virus berwarna hijau yang digunakan sebagai latar belakang gambar, yang sebenarnya merupakan ilustrasi dari virus Corona (SARS-CoV-2) atau virus flu lainnya.

“WABAH PES PNEUMONIK DI RUSIA DISEBUT LEBIH MEMATIKAN DARI COVID, LEBIH DARI 2000 ORANG DI KARANTINA.” Begitu narasi tertulis dalam unggahan.

Pengunggah juga menuliskan dalam unggahan, “BREAKING NEWS.. Wabah pes pneumonik di Rusia disebut lebih mematikan dari COVID , lebih dari 2000 orang di karantina publik.”
#inline4 {margin:1.5em 0}
#inline4 img{max-width:300px !important;margin:auto;display:block;}

@keyframes popIn {
from {
opacity: 0;
transform: scale(0.5);
}
to {
opacity: 1;
transform: scale(1);
}
}

const sourceHref = document.querySelector('.share-btn a')?.getAttribute('href');
if (sourceHref) {
document.getElementById('bannerTraktirBtn')?.setAttribute('href', sourceHref);
}

Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (20/10/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 2 tanda suka, 5 komentar, dan 1 kali dibagikan ulang.

Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “AuraTech Media,” yang menampilkan gambar serupa disertai narasi adanya laporan mengenai kemunculan wabah pes pneumonik di wilayah Rusia dan pemerintah setempat langsung mengambil tindakan tegas dengan mengkarantina lebih dari 2.000 orang yang diduga melakukan kontak erat atau berada di zona berisiko tinggi.

Lantas, benarkah pemerintah Rusia mengkarantina 2000 orang akibat pes pneumonik di Rusia?

Baca juga:Akibat Impor Beras Tak Diawasi, Wabah Pes Merundung Hindia Belanda

Perkisa Fakta Wabah Pes Pneumonik.

Iklan
Promo Spesial

Hasil Pemeriksaan Fakta

Sebagai informasi Pes pneumonik (pneumonic plague) adalah bentuk infeksi penyakit pes yang paling berat dan menyerang organ paru-paru. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Pes pneumonik yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis memang memiliki tingkat kefatalan (case fatality rate) yang jauh lebih tinggi daripada COVID-19 jika tidak diobati.

Lebih lanjut, untuk memverifikasi kebenaran klaim, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) dengan menggunakan mesin pencarian Google. Hasilnya tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim bahwa saat ini sedang terjadi wabah besar atau lepasnya virus mematikan secara luas seperti narasi yang beredar di media sosial tersebut.

Tirto justru diarahkan pada situs resmi dari Deutsche Welle dw.com, yaitu lembaga penyiaran publik internasional milik pemerintah Jerman yang menyatakan bahwa seorang petugas badan peneliti wabah di Siberia, Rusia, meninggal dunia. Hampir 200 orang yang melakukan kontak kini dalam pengawasan medis. Namun, otoritas Rusia membantah adanya kaitan dengan infeksi bakteri pes.

Pemerintah Rusia menyatakan bahwa kematian pekerja laboratorium tersebut diduga tertular setelah terkena pecahan tabung uji yang rusak, dan tidak disebabkan oleh patogen penyakit pes. Badan pengawas kesehatan Rusia Rospotrebnadzor juga menyatakan bahwa petugas yang merupakan perempuan berusia 28 tahun tersebut meninggal akibat pneumonia dengan penyebab yang masih belum diketahui.

Senada dengan itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga melaporkan bahwa pada 10 Oktober 2026 seorang pegawai Institut Penelitian Antipes di Irkutsk, Siberia, Rusia, meninggal pada 2 Oktober setelah dirawat akibat pneumonia berat, tetapi penyebab pasti kematiannya belum terkonfirmasi.

Menurut WHO, otoritas Rusia menyatakan bahwa pemeriksaan terhadap pasien dan orang-orang yang melakukan kontak dengannya tidak menemukan patogen berisiko tinggi yang diuji, serta tidak ada kasus pneumonia berat lain yang terkait dengan kejadian tersebut.

WHO juga menyatakan bahwa hingga laporan tersebut diterbitkan, pihaknya belum menemukan bukti adanya penularan yang sedang berlangsung terkait peristiwa itu, meskipun diagnosis pasti terhadap pegawai yang meninggal masih belum diketahui.

Laman Reutersturut memberitakaninformasi terkait kasus tersebut pada 7 Oktober 2026. Reuters menyebutkan bahwa sekitar 200 orang sempat dikarantina sebagai tindakan pencegahan, bukan lebih dari 2.000 orang sebagaimana yang diklaim dalam unggahan.

Reuters juga melaporkan bahwa hampir 5.000 tes terhadap sekitar 200 orang yang dikarantina tidak menemukan infeksi berbahaya yang diperiksa, sehingga otoritas Rusia mulai melonggarkan langkah-langkah pencegahan.

Dengan demikian, informasi mengenai karantina memang berkaitan dengan peristiwa nyata di Rusia, tetapi jumlahnya dalam gambar tidak sesuai dengan laporan media kredibel yang ditemukan, dan kejadian tersebut tidak membuktikan adanya wabah pes pneumonik.

Selain itu, WHO menjelaskan bahwa pes merupakan penyakit infeksi akibat bakteri Yersinia pestis yang dapat ditularkan melalui gigitan kutu terinfeksi, kontak dengan jaringan terinfeksi, atau partikel pernapasan pada kasus pes pneumonik.

WHO menyebut pes pneumonik sebagai salah satu bentuk pes yang paling berbahaya karena dapat menular antar manusia melalui partikel pernapasan, terutama ketika diagnosis dan penanganan terlambat.

Meski demikian, pes pneumonik dapat diobati dengan antibiotik apabila terdeteksi dan ditangani secara cepat, sehingga tingkat kematian tidak dapat dinilai tanpa mempertimbangkan akses terhadap pengobatan dan kondisi pasien.

Adapun klaim bahwa penyakit tersebut lebih mematikan daripada COVID-19 tidak dapat dibuktikan hanya dengan membandingkan tingkat kematian dari kondisi yang berbeda, terlebih karena penyebab kematian pegawai laboratorium di Rusia belum dipastikan sebagai pes pneumonik.

Baca juga:Sanatorium Pacet dan Wabah TBC di Hindia Belanda

Iklan Slot Iklan ArtikelLeaderboard 728 × 90Info Iklan
Iklan Slot Iklan Artikel MobileNative banner 320 × 250Buka
Kesimpulan

CekFakta

Berdasarkan hasil penelusuran, klaim yang menyebut wabah pes pneumonik di Rusia lebih mematikan daripada COVID-19 dan menyebabkan lebih dari 2.000 orang dikarantina bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading). Faktanya, jumlah orang yang dikarantina di Rusia dilaporkan sekitar 200 orang, bukan lebih dari 2.000 orang. Peristiwa tersebut disebabkan kematian seorang pegawai laboratorium di Rusia Karantina dilakukan terhadap orang-orang yang melakukan kontak dengannya, tetapi penyebab kematiannya belum terkonfirmasi sebagai pes pneumonik. Selain itu, narasi yang menyatakan Rusia sedang menghadapi wabah pes pneumonik yang lebih mematikan daripada COVID-19 tidak didukung oleh bukti yang tersedia dari WHO dan laporan media kredibel. == Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

Iklan Slot Iklan Artikel Mobile KeduaNative banner 320 × 200Buka

Referensi (10)

  1. 1https://www.facebook.com/photo/?fbid=122145202173159564&set=a.122103526497159564
  2. 2https://archive.today/V0oha
  3. 3https://tirto.id/payment/?article_id=1541714&article_slug=%2Fkeliru-2000-orang-dikarantina-akibat-pes-pneumonik-di-rusia-hD3U&article_title=Keliru%2C+2000+Orang+Dikarantina+Akibat+Pes+Pneumonik+di+Rusia&article_url=https%3A%2F%2Ftirto.id%2Fkeliru-2000-orang-dikarantina-akibat-pes-pneumonik-di-rusia-hD3U&author_id=tim-riset-tirto&author_name=Tim+Riset+Tirto&sig=7b0342a8f860f8facbd90be8dac94448693b2dd0c25adfdb7154b8e5dbf7a658
  4. 4https://www.facebook.com/AuraTechMedia/posts/pfbid0si7wddvL5wULeoxb2ffQSJYcUqYGjZsrjttuiTjzDVesqqmbRSJb64sFV4pYvCmAl?rdid=lJMD0LYhp9Ve4Lth#
  5. 5https://tirto.id/akibat-impor-beras-tak-diawasi-wabah-pes-merundung-hindia-belanda-eFYg
  6. 6https://www.dw.com/id/dugaan-kasus-wabah-pes-di-rusia-apa-yang-perlu-diketahui/a-79557793
  7. 7https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2026-DON620
  8. 8https://www.reuters.com/business/healthcare-pharmaceuticals/who-seeks-details-russia-media-reports-a-second-lab-worker-with-pneumonia-2026-10-07
  9. 9https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/plague
  10. 10https://tirto.id/sanatorium-pacet-dan-wabah-tbc-di-hindia-belanda-hBmd
Tags:
Keterangan Artikel

Seluruh konten pemeriksaan fakta pada halaman ini disediakan oleh TurnBackHoax/Mafindo. Kami merupakan partner resmi dalam penyebaran informasi terverifikasi.

Logo Tirto.id
Tirto.id✓

Tirto.id menyajikan berita berbasis fakta dan analisis data, ditulis secara menarik dan senantiasa dilengkapi Infografik. Nama tirto kami pilih sebagai ungkapan rasa hormat kami kepada Tirto Adhi Soerjo (Sang Pemula) sekaligus keinginan kami untuk sejalan dengan filosofi tirta (air) yang jernih, mengalir, mencerahkan.